Ads 468x60px

Sabtu, 24 Maret 2012

Dubes Djauhari: Kembalikan Kejayaan Kerjasama Pendidikan RI-Rusia

Moskow Kerjasama pendidikan Indonesia-Rusia belum mencerminkan potensi yang dimiliki oleh kedua negara. Tidak ada jalan lain, kecuali mengusahakan peningkatannya secara terpadu. 

Demikian disampaikan Duta Besar RI Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Republik Federal Rusia Djauhari Oratmangun melalui Penanggungjawab Pensosbud dan Pendidikan KBRI Moskow, M Aji Surya, Jumat (2/3/2012). 

Sebelumnya Dubes telah menyampaikan hal serupa di depan kalangan media nasional (1/3/2012), di Universitas Indonesia (UI), Jakarta (1/3/2012) dan Universitas Gajah Mada (UGM, Yogyakarta (28/2/2012). 

Kepada kedua rektor, Dubes menyampaikan kegelisahannya tentang SDM Indonesia yang minim dalam menyongsong kerjasama global dan regional, khususnya yang terkait dengan Rusia. Disebutkan, saat ini hanya terdapat 128 mahasiswa Indonesia di Rusia dan 100-an mahasiswa Rusia di Indonesia. 

"Dengan jumlah seperti ini rasanya akan sulit untuk membangun aliansi strategis dengan Rusia. Baik Indonesia maupun Rusia harus memprioritaskan kerjasama bidang pendidikan sebagai fondasi kerjasama lainnya," ujar Dubes. 

Apa yang disampaikan oleh Dubes diamini sepenuhnya oleh Rektor UGM dan UI. Sebagai langkah kongrit, UGM akan menindaklanjuti kerjasamanya dengan Bauman University dan menggandeng Universitas Persabahatan Antar Bangsa di Moskow. Sedangkan Rektor UI akan melakukan kunjungan ke Rusia dalam waktu tidak terlalu lama. 

Rektor maupun Dubes sepakat bahwa upaya peningkatan kerjasama pendidikan ini harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu serta mengikutsertakan stake holders terkait. Kementerin Pendidikan dan Kebudayaan juga harus berkontribusi secara aktif dalam membangun sinergi ini. 

"Saya sudah bertemu Mendikbud dan Sekjen dan mendapatkan dukungan positif," imbuh Dubes. 

Sementara itu, dalam kuliah umum di Fisipol UGM dan Fakultas Ilmu Budaya UI, Dubes menggarisbawahi tentang persaingan global dan regional yang makin ketat dan pentingnya SDM unggul. 

Disebutkan bahwa beberapa negara jiran Indonesia saat ini menyekolahkan 3000 hingga 10.000 mahasiswanya di Rusia dalam rangka menyongsong kerjasama di masa datang. Itu semua karena ada kesadaran bahwa Rusia akan memainkan peranan lebih besar di kancah global dan regional. 

Salah satu masalah utama dalam pengembangan kerjasama ini di tingkat nasional adalah soal stigmatisasi keliru terhadap Rusia. Banyak yang mengira bahwa Rusia masih era Uni Soviet, jaraknya lebih jauh dari Eropa dan bahasanya sangat sulit dipelajari. 

Padahal semua itu tidak tepat karena Rusia telah menjadi sebuah negara demokratis, jaraknya hanya 12 jam penerbangan dari Jakarta dan sejauh ini tidak seorang pun warga Indonesia gagal dalam belajar Bahasa Rusia. 

"Oleh karena itu saya juga menghimbau kepada seluruh civitas akademika untuk lebih banyak menulis di berbagai media untuk menggugah kesadaran semua pihak, sehingga nanti kita bisa memetik buah lebih banyak dari hubungan Indonesia-Rusia," tandas Dubes. 

Dubes Djauhari juga memaparkan kenyataan serupa dengan berbagai media massa di Indonesia di sela-sela kunjungannya di Jakarta kali ini. Disampaikan, peranan media sangat besar dalam mendesimenasi informasi dalam rangka mengubah stigmatisasi yang salah dalam masyarakat. 

Tidak kalah penting, Dubes yang baru saja menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Medvedev ini juga berjanji untuk mengkomunikasikan hal ini dengan Dubes Rusia di Jakarta dan juga Kementerian Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Rusia di Moskow. 

"Dengan upaya bersama semacam ini, rasanya tidak sulit untuk mengembalikan kejayaan kerjasama pendidikan Indonesia-Rusia," pungkas Dubes.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar