Ads 468x60px

Senin, 19 Maret 2012

Terapi Kanker Serviks Antarkan Mahasiswa FK Raih Prestasi

Wahyu Triadmajani (kiri) dan Dyah Ayu Laksmi

Lima puluh dua juta perempuan Indonesia berisiko terkena kanker yang merupakan penyebab kematian utama pada wanita. Sementara 36 persen perempuan Indonesia penderita tersebut merupakan penderita kanker serviks. Hasil riset ini memberi semangat tiga mahasiswa FK memanfaatkan teknologi rekombinan vaksin BCG yang mengekspresikan Pertussis Toxin Subunit B (rBCG-PTX-B) sebagai agen terapi kanker serviks. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Wahyu Triadmajani, Dyah Ayu Laksmi, dan Musthika Widha Masithah.  
Berkat gagasan tersebut, mereka berhasil meraih prestasi sebagai Juara pertama Paper Competition Sriwijaya Medical Scientific Olympiad di Universitas Sriwijaya, akhir September tahun lalu. Demikian disampaikan ketua tim Wahyu, mahasiswa jurusan Pendidikan Dokter angkatan 2010 di ruangan HUMAS, Kamis (8/3). Paper mereka dinyatakan sebagai juara setelah mengalahkan sepuluh finalis lainnya yang antara lain berasal dari Universitas Sumatera Utara, Universitas Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Airlanggadan UB. UB sendiri mendominasi jumlah finalis dengan jumlah lima kelompok.
Penggunaan PTX dikarenakan,aplikasi PTX pada kanker telah diteliti secara in vitro dan in vivopada kanker kandung kemih (SBC, superficial bladder cancer). Pada studi ini, ketiga mahasiswa tersebut mencoba menganalogikan penyembuhan kanker serviks dengan SBC karena patofisiologinya relatif sama.
Sedangkan BCG melalui efek imunoterapinya juga telah lama didemonstrasikan sebagai agen anti tumor. Dalam studi yang pernah dilakukan, dibuktikan rBCG-S1PT menunjukkan efek imunomodulatornya (menyeimbangkan TNF-α dengan IL-10) dan penurunan massa tumor BSC. TNF-α merupakan sitokin yang diperlukan sebagai antitumor. "Pada orang yang terkena kanker, TN-α-nya turun sedangkan IL-10-nya berlebiha. Sedangkan orang sehat jumlah nya relative seimbang," ucap Wahyu.
Dijelaskan Dyah, untuk mengaplikasikan CCTV (Cervical Cancer Therapy by rBCG-PTX B Vaccine), maka langkah-langkah yang dilakukan adalah membuat kontruksi vaksin rBCG-PTX-B. Kemudian mengolah sediaan CCTV menjadi spray yang selanjutnya dilakukan secara Topikal Intravaginal. Alat yang digunakan kombinasi dengan spatula untuk Pap Smear sebagai jalan pembuka mulut vagina dan mulut rahim. Lalu dikombinasikan dengan tube khusus berbahan silicon yang lentur dengan sprayer berkapasiatas optimal. Alat ini nantinya bersifat sekali pakai.
Sedang, bentuk spray dipilih agar efek pengobatan yang dihasilkan lebih maksimal. "Butiran-butiran  kecil diharapkan memaksimalkan penetrasinya ke sel kanker," tutur Wahyu.
Terapi ini baru berupa gagasan. Untuk mewujudkannya butuh pengujian medis yang panjang hingga bisa dikonsumsi oleh m asyarakat umum. "Setelah presentasi, ada salah satu juri yang menawarkan diri untuk menindaklanjuti penelitian ini lebih serius, " ujar Wahyu.[ai]

                            https://twitter.com/UB_Official

Tidak ada komentar:

Posting Komentar